Bogor Agricultural University (IPB)
IPB Badge

Berfikir Dan Menulis Ilmiah                           Hari/tanggal    : Senin, 4 Januari 2010

(KPM-200)                                                      Ruangan          : Audit 3 Fahutan

Thesis Statement dan Mengkritisi Ringkasan

Kelompok 2

Oleh:

Dian Hermawati          I34080074

Dosen  :

Ekawati S. Wahyuni

Martua Sihaloho

Pudji Muljono

Assisten Dosen : Rizal Razak

Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Fakultas Ekologi Manusia

Instutut Pertanian Bogor

2009

Ringkasan

M. Arnas Firdiansyah R.

Pengaruh Motivasi Bekerja Perempuan di Sektor Informal Terhadapa Pemabgian Kerja dan Pengambilan Keputusan dalam Keluarga (Kasus Pedagang Sayur di Kampung Bojong Rawa Lele, Kelurahan Jatimakmur, Kecamatan Pondok Gede, Kabupaten Bekasi)

Thesis Statement

Berawal dari pemikiran bahwa laki-laki dalam kapasitasnya sebagai suami dalam sebuah rumahtangga selalu diidentikkan dengan kewajibannya mencari nafkah. Hal ini seolah menutup kemungkinan bagi istri untuk bekerja. Namun, jika dilihat dari sudut pandang lain apabila suami kurang cukup dalam menghidupi keluarganya, sang istri dapat mengambil peran dalam mencari nafkah. Penelitian ini dilakuan untuk melihat motivasi perempuan untuk bekerja serta pengaruhnya terhadap pembagian kerja dengan melihat curahan waktu bekerja. Motivasi ekonomi ternyata mempengaruhi curahan waktu bekerjanya. Hal ini dikarenakan kebutuhan finansial keluarga yang umumnya belum terpenuhi. Ini membuktikan bahwa terdapat hubungan antara motivasi perempuan dengan waktu bekerjanya. Hal lain yang ditemukan pada penelitian ini adalah tidak ditemukan hubungan antara curahan waktu dengan pengambilan keputusan.

Kritikan

  • Pada bagian atas seharusnya tidak perlu dituliskan di bawah bimbingan Ekawati S.Wahyuni karena hal tersebut telah termasuk dilembar pengesahan dalam penelitian.
  • Dari segi EYD penulis masih menggunakan kata yang tidak baku, seperti “…pengaruh motivasi tersebut terhadap pembagian kerja yang diketahui lewat curahan waktu bekerjanya.”
  • Penulis juga masih kurang dalam menghemat kata, seperti “Berawal dari pemikiran tersebut seolah-olah menutup kemungkinan bagi istribuntuk bekerja, karena istri lebih diwajibkan untuk mengurus keluarga.”
  • Penulis masih menggunakan kalimat majemuk, seperti “Bila pada hari biasa suami mengerjakan semua kegiatan sendiri, ketika istri tinggal bersama suami untuk bekerja perubahan peran terjadi.”
  • Penulis memasukkan opini, “Pada dasarnya bekerja adalah tugas utamka suami sebagai kepala tumahtangga dan istri memilki tugas utama mengurus rumah tangga.”
  • Penulis masih kurang tepat dalam menentukan jumlah alinea yang tergantung dari besarnya ringkasan dan jumlah topik utama.

Ksepian ini ingn kubagikn..
Senyap dsdut-sdut klelahan..
D antara nafas-nafas insan larut d kheningan..

Aku ingin brkhalwat dgnMu..
Tk hny skedar mgadukn sgla tingkah & kslahanku dwktu lalu..
Aku ingn brkhalwt dgnMu..
Brgkt dr keimnan utusnMu, yg myendiri utk myelami lautan rahmatMu..
Aku ingin berkhalwat dgnMu..
Agar aku tahu,
siapa aku dgn sgala kedhoifan ats sgala sesuatu..
Agar aku tahu,
siapa aku yg sdkit skali bsyukur ats sgla nikmatMu..
Aku ingn berkhalwat dgnMu..
KpdMu ingn kulabuhkn cintaku..
Perhatianku..
Tangisku..
Ketidakmampuanku..
Langkahku,
di jalan dakwahMu,
aku ingn brkhalwat dgnMu..
Utk luruskn kmbli hati-hati yg tengah berlari..
Utk mengisi kmbli hati-hati yg smpat trkurangi..
Utk mbrsihkn kmbli hati-hati yg smpat trnodai..
Aku ingn berkhalwat dgnMu, malam ini..
Malam-malam brkutnya..
Malam-malam setelahnya..
Malam,ktka keimananku dprtanyakan olehNya..

ada sebuah taman berpagar bintang-bintang,
telaga hijau berbunga mutiara
menebar keteduhan
tepat di jantungnya.

fajar menyingsing, dan bintang-bintang menjelma bidadari
memecah hening pagi, dengan jernih gemericik telaga surgawi
berselendang mega-mega,
mengiring kasih Illahi
yang menyiram bumi bersama sinar mentari.

bidadari melambaikan sayap warna-warni
meniti pelangi, menuju tiap hati
yang bersenandung rindu,
merenda rasa percaya
bahwa kasih sejati
akan datang hari ini

(hani hendayani-amatullah shafiyyah)

Ironi melihat paradoks kehidupan, menelisik di antara ilalang-ilalang kegetiran, membidik mangsa yg larut dalam kenikmatan, seolah tiada menempel sedikitpun tanda kesyukuran.. Dalam biduk ini, tempat bersimpuh peluh. Dalam rel-rel kematian menghantui setiap malam. Dalam roda-roda kepahitan para durjana. Tertawa di atas kemiskinan. Rasanya, empuk sekali bercanda dengannya.. Atau sekedar mengagumi pendingin merek terbaru.. Atau mobil yang pintunya bisa menutup sendiri.. Ironi di ujung air mata.. Ketika mereka dgn mudahnya menyelimuti fakta dengan dosa berlumur cinta.. Mudah sekali mengucap sumpah, seolah tak akan datang kehidupan kedua.. Benarkah ini tak berujung? Berharap pada hujan uang menghabiskan keletihan.. Berharap petir kekayaan tanpa kenistaan.. Manusia, memang diciptakan mengeluh.. Tetapi, bukan itu penyebab kebaikan meluruh.. Bercita-cita tentang seorang anak bangsa yg rindu negeri seribu angin harumkan namanya.. Mudah, bagi kita berbicara tentang kejayaan.. Sulit, bagi mereka untuk memikirkan satu hal saja.. Semua kembali bertanya pada diri.. Adakah kebenaran sudah melekat di hati ini? Adakah keikhlasan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari? Adakah semua yg telah kita lakukan pantas disebut PENGORBANAN? Masih blm ckupkah? Ya, takkan terukir kata “sudah” itu di negeri ini.. Saat kita masih belum berupaya untuk terus memperbaiki diri.. (st.gndngdia-09.48)

Nama email jabatan dept/angkt
Imam Saloso imamsaloso@rocketmail.com ka.dep GM 44
Abdul Haris Nasution ibl_cool@yahoo.com wak.dep KPM 45
Dian Hermawati senandung.langit0812@gmail.com sek.dep KPM 45
Kunthi Fahmar Shandy sandyyy.kunthi@yahoo.com ben.dep KPM 45
Yuliyanti Maratun Baroroh kambing.bentol@gmail.com staff GM 45
Azni Ratnarosada Putri bluespot_79@yahoo.com staff GM 45
Fannisa Fitridina funny_ILZI@yahoo.com staff GM 45
Fitriani Azis Ramadhani py3ny89@yahoo.com staff GM 44
M.Dana Budiyanto mpradanab_ipb@yahoo.co.id staff GM 44
Mirna Yuliana mimiunyil@yahoo.com staff IKK 45
Nursyarifa discustinfreak@yahoo.cm staff KPM 45

“Target kita juara tahun ini. Entah ini kepercaan atau apa piala PIMNAS setiap 2 tahun itu bergilir. Universitas Brawijaya sudah 2 kali memboyongnya, mudah-mudahan tahun ini kita.”

Berkaca pada harapan Ibu Megawati Simanjuntak, Sp. Msi. Penyelenggaraan Monitoring dan Evaluasi (Monev) kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini IPB mempersiapkan lebih matang sebelum Monev dari Dikti tanggal 10,11, 12 Mei nanti. Minggu, (25/04) lalu Monev IPB dilaksanakan di 9 kelas yaitu: rektorat I, II, Dit. Ap, SDM, Pasca I, III, dan LPPM I, II.

Tahun ini Program Kreativitas Mahasiwa Bidang Penelitian (PKMP) mendulang penerimaan tertinggi dari 321 proposal yang didanai. Dengan alokasi 132 PKMP, 120 PKMK, 55 PKMM, 14 PKMT.

Menariknya, dalam Monev kali ini ditemukan biaya yang baru digunakan sebesar 350 ribu padahal pendanaan setiap proposal sekitar 4-7 juta. “Itulah yang mengecewakan, mahasiswa terkesan tidak serius menjalaninya. Adanya Monev IPB tahun ini berharap tidak menjadi bulan-bulanan juri ketika Monev dari Dikti,” tutur beliau.

Bagaimanapun kendalanya, IPB tetap menjadi Universitas yang teratas dalam pendanaan PKM dari DIKTI. Pasalnya, Monev IPB yang baru diadakan tahun ini mengharapkan persiapan yang lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Serta pelaksanaan 100% yang menjadi tuntutan dari Dikti. (dyn)

LAPORAN TURUN LAPANG

KEGIATAN KUNJUNGAN LAPANGAN KE UNIT-UNIT USAHA DI LINGKUNGAN IPB

“FRIENDS 24”

Oleh:

  1. Ninda Nevada                                 I34080044
  2. Debbie Luciani Prastiwi               I34080059
  3. Ahmad Fauzi                                   i34080064
  4. Dian Hermawati                              I34080074
  5. Yakob Arfin                                      34080086
  6. Adelia Ruspita                                 I34080127
  7. Fitria Rahmawati                            I34080107

Asisten:

Siska Triana S.Kpm

Ratna Fadhilah

Depatemen Sains dan Komunikasi dan Pengembangan Maayarakat

Fakultas Ekologi Manusia

Institut Pertanian Bogor

2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tingkat pengangguran terdidik makin meningkat setiap tahunnya, hal itulah yang membuat mereka melirik jalan lain untuk mencapai kesuksesan. Salah satunya adalah berwirausaha. Wirausaha adalah salah satu jalan yang prospek ke depannya cukup menjanjikan dan mudah dilakukan. Tak memungkiri, IPB pun mendukung para mahasiswanya untuk mengembangkan potensi usaha. Banyak program, bantuan bahkan beasiswa baik dari luar maupun dari dalam untuk menjalankan satu kegiatan wirausaha.

Dalam berwirausaha, sudah tentu memiliki partner kerja dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Interaksi yang efektif antar para anggota, baik atasan maupun bawahan dibutuhkan untuk menjaga eksistensi usaha yang dijalankan. Kegiatan komunikasi dalam manajemen berwirausaha dibutuhkan untuk mengintegrasikan dan menkoordinasikan para pelaku bisnis dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen (planning, organizing, actuating, controlling).

Fungsi-fungsi dari komunikasi itu terbagi 4 macam, yaitu informatif, persuasif atau motivatif, kontrol dan emotif. Dalam melaksanakan kegiatan usaha tersebut pastinya memilki kendala serta hambatan yang ditemui dalam perjalanan. Untuk itu, perlunya mendalami dan mempelajari langsung bagaiman komunikasi internal maupun eksternal yang mampu diciptakan agar tidak terjadi pembubaran dalam kegiatan usaha tersebut.

1.2 Tujuan

  • Mempelajari sejarah dan tujuan didirikannya unit usaha
  • Mempelajarii struktur organisasi unit bisnis dan fungsi-fungsi yang dijalankan oleh tiap-tiap bagian
  • Mempelajari proses komunikasi internal yang dijalankan oleh unit bisnis, kendala-kendala dan solusinya
  • Mempelajari proses komunikasi eksternal (cara pemasaran dan promosi produk atau jasanya) yang dijalankan oleh unit bisnis, kendala-kendala dan solusinya

1.3 Panduan Petanyaan

  1. Profil Unit Usaha: sejarah, tujuan, sruktur organisasi, fungsi masing-masing bagian, atribut/identitas organisasi, dsb
  2. bagaimana cara rekrutmen pegawai?
  3. bagaimana cara mengkoordinasikan tugas-tugas dengan pegawai? Adakah pertemuan rutin?
  4. bagaimana cara mengontrol hasil pekerjaan pegawai?
  5. informasi tentang apa saja yang diharapkan dari bawahan?
  6. bentuk-bentuk komunikasi lisan yang menunjukkan hubungan natara atasan dan bawahan?
  7. berbagai bentuk komunikasi tertulis?
  8. siapa saja stakeholder eksternal?
  9. bagaimana cara menjalin hubungan dengan stakeholder eksternal?
  10. bagaiamana cara menangani claim daari pelanggan?

MK.Berfikir Menulis Ilmiah Hari/Tgl: Senin, 21 Desember 2009

Urgensi Pers Mahasiswa

Oleh:

Dian Hermawati I34080074

Dosen:

Pudji Mulyono

Asisten Dosen:

Rizal Razak

Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Fakultas Ekologi Manusia

Intitut Pertanian Bogor

2009


DAFTAR ISI

BAB 1. 1

1.1 Latar Belakang. 1

1.2 Perumusan Masalah. 2

1.3 Tujuan. 2

1.4 Manfaat 2

BAB II. 1

2.1 Gambaran Masa Orde Baru. 1

2.2 Pers Mahasiswa Terhadap Pergolakan Pada Masa Orde Baru. 4

BAB III. 1

3.1 Kesimpulan. 1

3.2 Saran. 2

DAFTAR PUSTAKA.. 3

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peran mahasiswa dalam mengkritisi kebijakan pemerintah memang tidak dapat dipungkiri. Pasalnya, mahasiswa adalah bagian dari masyarkat dengan predikat intelektual. seperti yang dikatakan Kaharudin (1999) bahwa mahasiswa adalah the most important society. Bermodal inisiatif dan kekritisan, kaum intelektual ini mampu menyoroti dan berperan serta aktif dalam menghadapi putusan dan kebijakan pemerintah.

Melirik kekeruhan bangsa pada zaman orde baru, ini merupakan titik nadir dari pertentangan dan pergerakan mahasiswa. Taufik (1977) mencatat, alam orde baru ini ditandai dengan kegiatan pembangunan di segala bidang dan dipelopori oleh pemerintah dengan Rencana-rencana Pembangunan Bertahap yang dikenal dengan nama Repelita.

Pembangunan tersebut merupakan dinamika perubahan menuju peningkatan taraf hidup masyarakat. seperti yang telah diketahui dalam melaksanakan pembangunan, masyarakat butuh mengetahui tentang informasi dan tujuan pembangunan nasional.

Dalam hal ini mahasiswa sebagai pusat peradaban memiliki peran penting dalam penyampaian gagasan, pendapat atau bahkan kritikan terhadap kebijakan yang dijalankan. Pergerakan mahasiswa sudah memili tempat tersendiri sejak zaman pra-kemerdekaan, Budi Utomo merupakan pelopor Kebangkitan Nasional 1908. Berangkat dari hal tersebut pers mahasiswa pada roda pembangunan orde baru menarik untuk ditelusuri.

“Rasa terlibat mahasiswa dengan masalah-masalah sosial politik yang dihadapi masyarakat umum tidaklah meragukan Sympaty, compassion selalu ada dalam diri mereka. Tingginya refleksi jurnalistik mereka cukup jelas dalam pemilijhasn berita-berita utama, editorial serta karikatur yang senantiasa diusahakan untuk sejalan dengan masalah masyarakat pada umumnya.” (Dhakidae, 1977, seperti dikutip oleh Supriyanto, 1998, halaman 24)

Orde baru mulai menata kembali perekonomian yang telah hancur pada masa Soekarno. Pada titik itulah peran pers mahasiswa dalam mencari, merumuskan dan menegakkan ideologi pembangunan (modernisasi) (Supriyanto, 1988).

1.2 Perumusan Masalah

  1. Bagaimana gambaran umum pers mahasiswa pada masa Orde Baru?
  2. Pers mahasiswa terhadap pergolakan pembangunan pada masa Orde Baru?

1.3 Tujuan

  1. Untuk mengetahui gambaran pers mahasiswa pada masa Orde Baru
  2. Untuk mengetahui sejauh mana pers mahasiswa mampu menyampaikan gagasan, kritikan, dan harapan terhadap kebijakan pemerintah pada masa orde baru.
  3. Untuk mengetahui pengaruh serta pergolakan antara pers mahasiswa dan pemerintah.

1.4 Manfaat

  1. Dengan hasil penelitian ini bagi kalangan akademisi diharapkan menjadi sumber informasi dan sebagai bahan acuan dalam menciptakan pers mahasiswa yang aspiratif dan oposisi yang bertanggung jawab terhadap apa yang disampaikannya.
  2. Bagi Pemerintah hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan dalam mengambil keputusan untuk membuat batasan dan memberi kebebasan pers mahasiswa dalam dinamikanya.
  3. Bagi masyarakat hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber informasi tentang keadaan pers mahasiswa pada masa orde baru dalam menyampaikan gagasan, kritikan dan harapan terhadap kebijakan pemerintah.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Gambaran Masa Orde Baru

Masa Orde Baru adalah masa di mana berlaku rezim otoriter. Era Kepemimpinan Soeharto adalah masa kepemimpinan dengan gaya militerisasi. Taufik (1977) mencatat, alam orde baru ini ditandai dengan kegiatan pembangunan di segala bidang dan dipelopori oleh pemerintah dengan Rencana-rencana Pembangunan Bertahap yang dikenal dengan nama Repelita.

Firdaus (2007) mengatakan bahwa kondisi dan kultur pada masyarakat pada masa itu telah berbeda. Mayarakat telah mampu memahami hakikat demokratisasi. Karena itulah gaya kepemiminan militerisasi yang ditunggangi Soeharto tertolak oleh budaya masyarakat. Gaya kepemimpinan ini menuai kritikan. Esensialnya, apa yang diklaim Soeharto dengan demokrasi pancasilanya hanyalah proyek hegemoni dan dominasi besar-besaran atas kesadaran masyarakat. Soeharto menggunakan militer sebagai alat efektif dalam menuai kebijakan.

Firdaus (2007) menambahkan, pada titik itutlah pers melihat bahwa dengan gaya kepemimpinan seperti itu akan mengancam kebebasan masyarakat. Pers menyadari juga bahwa kepemimpinan itu akan menghancurkan peran pentingnya ia sebagai salah satu pilar penyusun bangunan demokrasi. Hal ini berarti bahwa pola yang digunakan Soeharto kontradiktif dengan logika pers itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri pula hal ini juga berati pers adalah penghalang bagi lahirnya demokrasi pancasila yang hegemonik dan dominatif.

Terlebih lagi peran serta mahasiswa dalam dunia jurnalistik mengabadikan protes-protes yang disodorkan terhadap kepemimpinan massa itu. Pers mahasiwa pada tahun 60-an sudah meninggalkan intelektualisme. Pers mahasiswa berubah menjadi media politik yang penuh dengan provokasi, agitasi, dan pengutamaan nilai-nilai kelompok. Hal ini memang sesuai dengan kebijakan politik Soekarno yang

memerintahkan agar semua organisasi mahasiswa – tempat sebagian besar pers mhasiswa berinduk – berafiliasi dengan partai (Supriyanto, 1998).

Seperti yang diungkapkan Siregar (1983) dalam Supriyanto (1998) menghadapi kondisi tersebut lahirlah Mahasiswa Indonesia, Harian KAMI, Mimbar Demokrasi dan Gelora Mahasiswa Indonesia dalam mengganyang kebijkaan politik Soekarno. Mereka mengebiri kebobrokan sistem poltik Demokrasi Terpimpin.

Mahasiswa Indonesia juga telah menjalankan fungsi lainnya yang boleh jadi lebih penting, yaitu berupa sumbangan bagi tegaknya sebuah ideologi Orde Baru. Selama hampir delapan tahun – hampir 400 penerbitan – Mahasiswa Indonesia secara teratur mengemukakan gagasan-gagasan yang intinya berupa keinginan mereka terhadap modernisasi dan pembangunan di Indonesia[i].

Raillon (1986) dalam Supriyanto (1998) juga mengatakan bahwa setelahnya pun mahasiswa balik mengkritik Orde Baru, setelah Pemilu tahun 1971. Memang sejak tahun 1970 berbagai gerakan mahasiswa mengacam tindakan korupsi serta efek-efek negatif pertama dari pertumbuhan ekonomi. Mahasiswa Indonesi mencoba menyalurkan dan mengarahkan protes-protes tersebut sampai Pemilu 1971, namun kemudian mahasiswa malah mengkritik pembangunan yang dirasakan tidak adil dan otoriter itu.

Akhirnya memang bulan madu Orde Baru dan mahasiswa berakhir pada tahun 1974. Meletusnya peristiwa Malari menjadi alasan bagi penguasa untuk menindak tegas mereka yang coba-coba jadi oposisi. Pemimpin-pemimpin mahasiswa diadili, Mahasiswa Indonesia dan Harian KAMI dilarang terbit bersamaan dengan enam media lainnya, yaitu mingguan Nusantara dan Eskpres, surat kabar Indonesia Raya, Abadi, Pedoman dan Jakarta Times (Supriyanto, 1998).

Dari sekian banyak penerbitan maasisa 1966-1974 yang paling terkemukan adlah Harian KAMI, Mahasiswa Indonesia, dan Mimbar


Demokrasi. Pembacanya meluas kalangan golongan menengah. Oplah masing-masing mencapai 70.000, 30.000, dan 48.000 eksemplar (Supriyanto, 1998).

Hasil Studi Siregar (1983) dalam Supriyanto (1998) terhadap ketiga media tersebut membenarkan bahwa pers mahasiswa saat itu memang berorientasi politik. Tabel 01 menunjukkan hal itu.

Tabel 01. Perbandingan Isi Pers Mahasiswa tahun 1966

Jenis Isi Mahasiswa Indonesia Harian KAMI Mimbar Demokrasi
  1. Politik
  2. Pendidikan
  3. Kebudayaan
  4. Ekonomi
  5. Hukum
  6. Olahraga
  7. Advertensi
  8. Lain-lain
56,83%

12,30%

9,43%

0,90%

0,75%

17,40%

2,39%

44,99%

6,73%

2,35%

8,80%

1,08%

2,76%

27,66%

5,63%

38,88%

32,05%

10,52%

5,62%

2,51%

5,86%

4,56%

Jumlah 100% 100% 100%

Sumber: Pers Mahasiswa, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Siregar (1983) seperti dalam Supriyanto (1998).

Setelah pemberanguaan terhadap delapan media berpengaruh apda peritiwa Malari, untuk beberapa saat pers mahasiswa mengalami masa tenang. Namun, kemuadian pelan-pelan pers mahasiswa mulai muncul kembali dnegan format baru. Karena itu pada tahun 1976 pers mahasiswa diterbitkan oleh Dewan Mahasiswa. Misalanya, di Jakarta lahir Salemba (Universitas Indonesia), di Yogyakarta lahir Gelora Mahasiswa (Universitas Gadjah Mada), di Bandung lahir Kampus (Institut Teknologi Bandung) (Supriyanto, 1998).

Selanjutnya orientasi pers mahasiswa yang kuat dengan muatan politik bisa dilihat Tabel 02.

Tabel 02. Perbandingan Isi Pers Mahasiswa tahun 1978

Jenis Isi Salemba Gelora Kampus Mahasiswa
  1. Politik
  2. Pendidikan
  3. Kebudayaan
  4. Ekonomi
  5. Hukum
  6. Olahraga
  7. Advertensi
  8. Lain-lain
43,69%29,46%

15,69%

0,40%

1,92%

0,13%

6,19%

2,52%

26,09%36,85%

12,06%

2,13%

5,45%

0,40%

9,46%

7,56%

62,66%10,54%

6,42%

2,76%

0,50%

15,22%

1,90%

Jumlah 100% 100% 100%

Sumber: Pers Mahasiswa, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Siregar (1983) seperti dalam Supriyanto (1998).

2.2 Pers Mahasiswa Terhadap Pergolakan Pada Masa Orde Baru

Pada periode 1990-an, tidak banyak pers mahasiswa yang menonjol, apakagi memiliki tiras sampai puluhan ribu seperti Harian Kami. Juga tidak ada pers mahasiswa yang dibaca secara meluas di luar kampus seperti Salemba sesudah pembreidelan 1978. Meskipun demikian, di setiap kampus –khususnya di perguruan-peguruan tinggi yang sudah mapan—selalu ada penerbitan pers mahasiswa dengan tiras dan penyebaran yang beragam, entah di tingkat jurusan, fakultas, atau universitas. Entah isinya bersifat spesifik keilmuan atau bersifat umum.

Cara pengelolaan yang kurang profesional dan diberlakukannya kalender akademis dengan SKS yang ketat membuat penerbitan pers mahasiswa terbit seadanya. Jadwal penerbitan tidak teratur. Masalah klasik yang sering dihadapi adalah sulitnya memperoleh dana penerbitan dan regenerasi kepengurusan untuk mengelola pers mahasiswa. Iklim politik Orde Baru dengan sistem pendidikannya, yang sengaja dibuat agar mahasiswa lebih memusatkan diri pada studi dan mengurangi aktivitas lain

yang berbau politik, ikut andil dalam hal ini. Toh meski dengan kondisi demikian, tetap ada pers mahasiswa yang hadir.

Di UI, misalnya, dikenal Media Aesculapius (Kedokteran), Teknika (Teknik), Gita Pertala dan Buletin KAPA FTUI (diterbitkan kelompok pencinta alam Kamuka Parwata FTUI), Architrave (Jurusan Arsitektur), Media Elektro (Jurusan Elektro), Warta Yon UI (diterbitkan Resimen Mahasiswa Batalyon UI), Suratkabar Kampus Warta UI (tingkat universitas), Economica (diterbitkan Badan Otonom Economica FEUI), Mini Economica (diterbitkan Badan Otonom Economica FEUI), Suara Mahasiswa UI (tingkat universitas), Viva Justicia (Fakultas Hukum), Gaung (Jurusan Sastra Indonesia), Ekspresi (Sastra Indonesia), Slovanik (Sastra Rusia), Historia (Sejarah), Gong (Sastra Jawa), Go Fisip Go (FISIP), Preventia (Fakultas Kesehatan Masyarakat), dan lain-lain.

Di kampus lain dan kelompok mahasiswa lain, misalnya: Bilik (Yayasan Abu Dzarr al-Giffari, mahasiswa Universitas Nasional), Citra Patria (Universitas Tujuh Belas Agustus, Jakarta), Suara Ekonomi (Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila), Dinamika (STAIN Walisongo, Salatiga), Didaktika dan Transformasi (IKIP/Universitas Negeri Jakarta), Spektrum dan Nurani (IISIP), Teknokra (Universitas Lampung) dan Republik (Fakultas Sospol Universitas Lampung), Pralaya (Universitas Bandar Lampung), Raden Intan (IAIN Lampung), Himmah (Universitas Negeri Yogyakarta), Balairung dan Bulaksumur (UGM, Yogyakarta), Ekspresi (Universitas Negeri Yogyakarta), Sintesa (Fisipol UGM), Pijar (Filsafat UGM), Media Publica (Fikom Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Jakarta), Boulevard dan Ganesha (ITB, Bandung), Detak (Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh), Genta Andalas (Universitas Andalas, Padang), Suara USU (Universitas Sumatra Utara, Medan), dan banyak lagi.

Namun berbagai pers mahasiswa era 1990-an ini sudah sangat berbeda dengan pers mahasiswa era sebelumnya, khususnya sebelum 1970-an. Pers mahasiswa sekarang dilihat dari orientasi politik pengelolanya telah mengalami pergeseran. Pada generasi 1908, 1928,

1945, pengelola pers mahasiswa menjadikan medianya benar-benar sebagai alat perjuangan politik melawan penjajahan pihak luar. Pada saat yang sama, para pengelolanya juga aktivis-aktivis politik di tingkat nasional. Jadi kepentingan politik sangat mendominasi cara pengelolaan pers mahasiswa waktu itu.

Hal yang hampir serupa dimainkan oleh pengelola pers mahasiswa periode 1966 – 1971/74. pers mahasiswa seperti Harian Kami, Mimbar Demokrasi, Mahasiswa Indonesia waktu itu merupakan alat perjuangan untuk meruntuhkan Orde Lama. Para pengelolanya adalah orang muda yang pada masa Demokrasi Terpimpin tertekan aspirasi politiknya. Kaum muda yang umumnya dicap PSI-Masyumi ini memanfaatkan momentum sesudah peristiwa G30S, untuk menyalurkan aspirasi politik mereka dan terlibat aktif bersama Angkatan Darat untuk meruntuhkan sistem Demokrasi Terpimpinnya Soekarno. Jadi dasar aktivitasnya di pers mahasiswa adalah kesamaan aspirasi politik.

Pergeseran mulai terjadi pada pers mahasiswa periode 1971/74 1980, seperti Salemba, Gelora Mahasiswa, dan Kampus. Para pengasuh pers mahasiswa ini berasal dari mahasiswa yang pada mulanya didasari minat pada dunia jurnalistik. Karena latar belakang semacam itu yang dominan, keterikatan mereka pada pers mahasiswa lebih banyak oleh kesamaan minat pada jurnalistik. Sedangkan kritik sosial yang bebas, tanpa harus memihak kubu politik tertentu, ditempatkan sebagai fungsi utama penerbitannya.

Tampaknya ini sejalan dengan konsep gerakan mahasiswa sebagai kekuatan moral yang mulai dilontarkan pada 1970-an, di mana kritik sosial yang dilancarkan mahasiswa tidak dilandasi keinginan mahasiswa untuk memperoleh kursi kekuasaan. Kecenderungan ini tampaknya berlanjut pada pers mahasiswa periode 1980-an dan 1990-an. Para pengelolanya berminat pada dunia jurnalistik, namun tidak punya interest untuk duduk di kursi kekuasaan lewat aktivitas di pers mahasiswa. Dengan demikian, dari segi independensi sikap dan keberpihakan politik, pengelola pers

mahasiswa mulai generasi 1971/74, 1980-an, dan 1990-an relatif lebih independen dan bebas, serta lebih heterogen aspirasi politiknya.

Warna gerakan prodemokrasi, yang tidak lagi berbasis di kampus, juga mewarnai pers mahasiswa 1990-an. Ini terlihat, misalnya, dari Kabar dari Pijar yang diterbitkan Yayasan Pijar (Pusat Informasi dan Jaringan Aksi untuk Reformasi). Dalam mencoba menerobos kebuntuan, sejumlah lembaga pers mahasiswa melakukan kerjasama pelatihan jurnalistik dengan organisasi profesi wartawan yang kritis terhadap Orde Baru, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI), yang didirikan para jurnalis muda idealis pada 7 Agustus 1994. Banyak aktivis pers mahasiswa juga terlibat dalam penyebaran dan penjualan Suara Independen, buletin AJI yang dianggap ilegal oleh pemerintah Soeharto waktu itu. Khususnya ini terjadi pada periode 1995-1997.

Menghadapi tekanan rezim dan adanya kesulitan dalam berkiprah secara terbuka dan formal, mendorong AJI untuk secara sadar membangun jaringan kerjasama dengan para aktivis pers mahasiswa di berbagai kampus, khususnya di kota-kota besar Pulau Jawa. Hal ini karena para aktivis AJI waktu itu menganggap peran pers mahasiswa cukup strategis dalam menghadapi rezim Soeharto.

Para aktivis pers mahasiswa juga dipandang oleh AJI sebagai kader-kader atau calon jurnalis potensial, yang suatu saat akan betul-betul terjun secara profesional dan mewarnai dunia pers Indonesia yang sudah terlanjur dikooptasi oleh penguasa Orde Baru lewat organisasi “wadah tunggal” semacam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). PWI Pusat di bawah Ketua Umum Sofjan Lubis dan Sekjen Parni Hadi, dan PWI Jakarta di bawah Tarman Azzam, waktu itu praktis sudah menjadi alat rezim dengan sikapnya yang “memaklumi” dan tidak mengecam pembreidelan Tempo, DeTik, dan Editor, pada 21 Juni 1994.

Beberapa hari sebelum penembakan mahasiswa Universitas Trisakti, 12 Mei 1998, para aktivis pers mahasiswa di UPN Veteran juga mengadakan pendidikan pers bekerjasama dengan AJI. Salah satu materinya adalah bagaimana cara membuat siaran pers yang efektif,

sehingga agenda-agenda gerakan mahasiswa 1998 bisa lebih tersosialisasi di tengah masyarakat. Selama periode 1997-1999, AJI juga menjalin kerjasama dengan pers mahasiswa di Sekolah Tinggi Theologi, UPN Veteran, IISIP Lenteng Agung, Unitomo Surabaya, Unila Lampung, IAIN Jakarta, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Hasanuddin Ujungpandang, dan dengan Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jabotabek (FKSMJ).

Kerjasama organisasi jurnalis profesional dan aktivis pers mahasiswa itu ternyata kemudian terus berlanjut. Yayasan Jurnalis Independen (YJI), yayasan nirlaba yang didirikan oleh sejumlah pendiri AJI pada 12 Januari 2000, menjalin kerjasama berkesinambungan dengan aktivis mahasiswa Universitas Terbuka (UT). YJI bertujuan menumbuhkembangkan jurnalis yang profesional, kritis dan independen.

Para aktivis YJI memberikan pelatihan pers secara gratis untuk mahasiswa UT, melalui Forum Komunitas Mahasiswa dan Masyarakat Internet (FKM2I), yang membuat media online, yakni MAMAnet (Majalah Mahasiswa Internet online) di www.kbi-ut.com. Penggunaan media Internet adalah perkembangan teknologi kontemporer yang dimanfaatkan oleh para aktivis pers mahasiswa.

Di lingkungan Universitas Indonesia, YJI juga menjalin kerjasama dengan Senat Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, dengan mengadakan seminar dan pelatihan jurnalistik di kampus UI Depok, 14-15 November 2001. Seperti pola-pola kerjasama sebelumnya, seluruh materi dan tenaga instruktur disediakan oleh YJI. Acara yang diikuti lebih dari 150 orang ini lebih dari separuh pesertanya berasal dari luar UI, seperti dari UNJ dan IISIP. Ada juga peserta yang bukan mahasiswa (SMA), bahkan tiga jurnalis suratkabar Suara Kota yang berbasis di Depok ikut menjadi peserta.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Peran serta mahasiswa dalam dunia jurnalistik mengabadikan protes-protes yang disodorkan terhadap kepemimpinan massa itu. Pers mahasiwa pada tahun 60-an sudah meninggalkan intelektualisme. Pers mahasiswa berubah menjadi media politik yang penuh dengan provokasi, agitasi, dan pengutamaan nilai-nilai kelompok. Hal ini memang sesuai dengan kebijakan politik Soekarno yang memerintahkan agar semua organisasi mahasiswa – tempat sebagian besar pers mhasiswa berinduk – berafiliasi dengan partai (Supriyanto, 1998).

Raillon (1986) dalam Supriyanto (1998) juga mengatakan bahwa setelahnya pun mahasiswa balik mengkritik Orde Baru, setelah Pemilu tahun 1971. Memang sejak tahun 1970 berbagai gerakan mahasiswa mengacam tindakan korupsi serta efek-efek negatif pertama dari pertumbuhan ekonomi. Mahasiswa Indonesi mencoba menyalurkan dan mengarahkan protes-protes tersebut sampai Pemilu 1971, namun kemudian mahasiswa malah mengkritik pembangunan yang dirasakan tidak adil dan otoriter itu.

Warna gerakan prodemokrasi, yang tidak lagi berbasis di kampus, juga mewarnai pers mahasiswa 1990-an. Ini terlihat, misalnya, dari Kabar dari Pijar yang diterbitkan Yayasan Pijar (Pusat Informasi dan Jaringan Aksi untuk Reformasi). Dalam mencoba menerobos kebuntuan, sejumlah lembaga pers mahasiswa melakukan kerjasama pelatihan jurnalistik dengan organisasi profesi wartawan yang kritis terhadap Orde Baru, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI), yang didirikan para jurnalis muda idealis pada 7 Agustus 1994. Banyak aktivis pers mahasiswa juga terlibat dalam penyebaran dan penjualan Suara Independen, buletin AJI yang dianggap ilegal oleh pemerintah Soeharto waktu itu. Khususnya ini terjadi pada periode 1995-1997.

Menghadapi tekanan rezim dan adanya kesulitan dalam berkiprah secara terbuka dan formal, mendorong AJI untuk secara sadar membangun jaringan kerjasama dengan para aktivis pers mahasiswa di berbagai kampus, khususnya di kota-kota besar Pulau Jawa. Hal ini karena para aktivis AJI waktu itu menganggap peran pers mahasiswa cukup strategis dalam menghadapi rezim Soeharto.

3.2 Saran

Saran untuk mengambil fokus dalam membahas masalah pergerakan dan pers mahasiswa. Karena masalah yang terjadi terlalu kompleks dalam berbagai aspek. Jadi harapan ke depannya, semoga dapat lebih terarah ke satu fokus dan memperbanyak literature dalam

mengungkapakan kebenaran.

[1] Hal ini terdapat pada Supriyanto (1998) yang mengutip hasil studi mendalam Raillon (1986:332) terhadap Mahasiswa Indonesia. Selengkapanya dapat dilihat pada Politik dan Ideologi Mahasiwa Indonesia, Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 1986-1974, LP3ES, Jakarta, 1985.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Penerangan RI. 1988. Peranan Pers Menuju era Masyarakat Informasi. Departemen Penerangan RI: Jakarta

Supriyanto, Didik. 1998. Perlawanan Pers Mahasiswa Protes Sepanjang NKK/BKK. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta

Taufik, I. 1977. Sejarah dan Perkembangan Pers di Indonesia. Trinity Press: Jakarta

http://aguslenyot.multiply.com/journal/item/2

http://mengintip-dunia.blogspot.com/2007/11/jejak-pers-di-masa-orba-dan-reformasi.html

http://lpmkentingan.wordpress.com/

http://penaonline.wordpress.com/2007/12/23/sejarah-pers-mahasiswa-indonesia/

http://pipmi.tripod.com/apa_itu_pipmi.htm

http://www.balairungpress.com/content/tentang-balairung